X
Menu

  CALL / WA 0812 9087 7291
X

Level Gap Perusahaan Konstruksi : Analisis and Rekomendasi

Level Gap Perusahaan Konstruksi : Analisis and Rekomendasi

Kali ini topik yang dibahas cukup berat. Tapi percaya atau tidak, sering menjawab berbagai masalah yang bersifat fundamental atau strategis atas mengapa organisasi proyek atau organisasi perusahaan konstruksi / lainnya memiliki kecenderungan memiliki performa yang menurun. Tulisan kali ini adalah hipotesa hasil pengamatan atas banyak fenomena terkini.

Saya mencoba mencari-cari referensi terkait dengan tulisan ini. Namun belum ditemukan. Semoga nanti akan ketemu, karena tiap kali berhipotesa saya selalu mencari referensi update agar tidak mulai berfikir dari nol. Well…karena belum ada tentu tidak salah jika saya mencoba mengungkapkan hipotesa sederhana tapi bermakna cukup dalam ini.

Saat ini gembar-gembor proyek infrastruktur sedang begitu maraknya. Maklum pemerintah Jokowi sedang menggenjot proyek infrastruktur demi meningkatkan perekonomian kita yang ditopang oleh sektor konsumsi hasil dari belanja infrastruktur pemerintah. Alhasil, perusahaan bidang konstruksi pun berbulan madu karenanya. Tak ayal, target marketing atau proyek baru dipasang setinggi langit, revenue dipatok dengan growth securam tebing tinggi serta laba bersih yang meroket. Namanya sedang berbulan madu, sudah pasti banyak yang melirik. Harga saham perusahaan konstruksi pun ikut terbang tinggi melampaui segala konsensus investor. Applaus, handshaking, penghargaan, dan everybody happy tiap kali pembahasan kinerja perusahaan konstruksi.

Sudah bagus, tapi ada tapinya…laporan keuangan beberapa kwartal terakhir, sebagian besar perusahaan konstruksi melaporkan penurunan kinerja yang signifikan. Lho…bulan madu berujung negative growth?

Perlu diketahui bahwa bisnis konstruksi adalah bisnis jasa yang sangat mengandalkan resources SDM. Terlebih bahwa bisnis yang mengerjakan proyek konstruksi menghadapi kompleksitas yang tinggi alias risiko pekerjaan yang tinggi pula. SDM proyek logikanya harus mampu untuk hadling kompleksitas itu agar dapat mencapai target performa yang ditetapkan. Belakangan, kompleksitas proyek semakin tinggi seiring waktu. Beberapa penyebab utama yang mungkin adalah :

  • Project size yang semakin besar
  • Durasi proyek semakin dituntut untuk semakin pendek
  • Konflik resources yang semakin sering terjadi
  • Ketidak-sempurnaan design yang semakin banyak
  • Tuntutan kualitas yang semakin tinggi
  • Tingkat persaingan yang semakin ketat
  • Pengendalian berlebihan seperti kriminalisasi meningkat
  • Pendanaan proyek yang semakin terbatas / menurun
  • Dll

Semua di atas telah secara signifikan meningkatkan kompleksitas pelaksanaan proyek yang berarti bahwa tuntutan pengelolaan / manajemen proyek yang meningkat pula.

Di sisi lain semakin banyaknya proyek yang harus dikerjakan menyebabkan dibutuhkan SDM yang semakin banyak. Hal ini pada dasarnya bukanlah masalah jika kecepatan peningkatan jumlah proyek berjalan seimbang dengan kecepatan proses meningkatkan kemampuan / kompetensi SDM proyek.

Kenyataannya, justru kecepatan jumlah proyek berada jauh di atas kecepatan peningkatan kompetensi SDM baik hard maupun soft. Dampaknya, banyak proyek yang mengalami kekurangan SDM. Ini baru dari sisi jumlah. Padahal, tingkat kompetensi juga sangat menentukan. Terlalu besarnya perbedaan kecepatan tadi telah membuat banyak keterpaksaan dalam promosi SDM alias pengkarbitan yang masif. Dapat dibayangkan apabila suatu proyek dengan jumlah SDM yang kurang dan dengan kompetensi yang belum cukup dan bahkan kurang sekali. Tentu saja akan sangat melemahkan kemampuan tim proyek dalam mengelola proyek. Padahal, lemahnya tim proyek memiliki spektrum dampak yang luas dan bersifat fundamental. Banyak sekali elemen pengelolaan proyek yang akan terimbas.

Sekarang, baik kondisi tuntutan dan kondisi SDM dan kemampuannya dalam konteks pengelolaan proyek telah terpetakan dengan baik. Mereka telah berjalan berlawanan arah. Tuntutan bergerak naik, sedangkan kapasitan pengelolaan proyek bergerak turun. Inilah yang saya maksud dengan management capability gap.

Berdasarkan pengalaman menjadi Project Manager, idealnya kapasitas manajerial / pengelolaan proyek haruslah setidaknya sama dengan tuntutan kompleksitas yang ada. Selama menjadi PM, tidak pernah saya biarkan ada gap dalam waktu yang lama. Tiap kejadian yang mengindikasikan mulai terjadi gap, harus segera diatasi secara kolektif oleh tim proyek. Karena dampaknya yang berspektrum luas yang paling dikhawatirkan.

Pada suatu proyek dimana diminta untuk menjadi PM pengganti, saya dapati tim proyek dalam jumlah yang kurang, kompetensi kurang alias banyak bolong, dan attitude yang lemah. Saat itu bertubi2 tekanan mendera. Begitu banyak PR dan masalah kelas berat yang harus diselesaikan. Jelas ini karena gap yang sudah terlalu lebar yang dibiarkan dalam waktu cukup lama. Rumus sederhana adalah secara cepat menutup gap dengan menambah personil dengan kompetensi yang tinggi, dan atau dengan mengganti personil yang dengan tipikal pelemah mental tim, meningkatkan mental / spirit tim serta menambal beberapa sistem penting dan problem solving yang memadai. Sangat melelahkan, namun hasilnya luar biasa. Banyak kinerja proyek naik signifikan dalam waktu kurang dari 6 bulan. Inilah bukti dan pelajaran penting yang sangat berharga.

Tulisan ini bermaksud untuk bersama-sama memperhatikan bahwa growth apapun terutama bagi perusahaan konstruksi, elemen no.1 haruslah berupa kemampuan pengelolaan (management capability / level of manageability) yang berujung pada bagaimana kondisi eksisting SDM dan planningnya ke depan. Boleh saja banyaknya proyek infrastruktur membuaikan mata dan telinga. Tapi apa artinya jika bulan madu akan berakhir menjadi masalah besar bagi perusahaan konstruksi apabila tidak segera menyadari potensi risiko besar tersebut. Pembahasan singkat ini pada akhirnya menyimpulkan betapa pentingnya pengelolaan SDM yang balance dan sejalan dengan perkembangan perusahaan jika ingin tetap eksis dan maju serta menjadi perusahaan terkemuka yang sebenarnya.

Bagaimana jika sudah terlanjur? Obatnya masih tetap sederhana, yaitu pembatasan NK proyek minimal karena lebih sedikit proyek untuk revenue yang relatif tetap, perbaiki sistem terkait SDM secara cepat untuk menutup gap secara jitu, peningkatan sistem planning dan controlling atas pengelolaan proyek, yang dapat dilakukan secara centralization atau cara lainnya. Semoga bermanfaat.

sumber :

Share

Administrator

Konsultan hukum, notaris, pengacara, jasa pendirian usaha , jasa pengurusan perizinan 

KATEGORI